Label

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

MANUSIA PETANG HARI


Bola terang di langit beranjak turun ke paraduannya, suara jangkrik-jangkrik hutan belakang rumah berbunyi berisik. Sangat berisik menurutku. Pasukan burung-burung berterbangan menuju sarangnya di atas pohon mahoni. Badan burung yang nyelelasak masuk ke rerimbunan daun pohon, membuat beberapa daun yang telah menguning jatuh ke tanah. Anak-anak burung bercit-cit mengetahui kedatangan induk mereka.
Mengetahui akan kedatangan petang, aku beranjak menuju rumahku. Rumah yang sempit beralaskan tanah dan berdinding kayu tipis yang di anyam, manusia-manusia sering menyebutnya anyaman bambu. Tak ada penerangan di rumahku, jika petang menjelang, beruntunglah kami jika ada bola terang selanjutnya. Tapi bola terang itu tak seterang bola terang yang biasanya. Saudara-saudaraku sudah tertidur semua. Dan aku pun mengikuti mereka. Tidur.
Tiba-tiba aku terbangun, tapi hari belum terang nampaknya. Masih gelap gulita. Tapi ku dengar suara berdecit, suara pintu rumahku di buka. Terdengar suara tarikan nafas, pelan tapi jelas ku kenali bahwa itu suara tarikan nafas manusia. Ku lihat sesosok manusia masuk rumahku. Berbadan kurus, mengenakan pakaian serba gelap nampaknya. Bau badannya tak sedap, sama seperti bau rumahku.

Rabu, 19 Desember 2012

Joger dan Aku

Joger dan Aku
 Ku masih bisa berjalan keluar, dan menyapa teman-teman senasibku. Mereka yang merasa dompetnya tercekik saat melihat label harga di dalam. Sama denganku, mereka masih bisa bernafas, tertawa, bahkan menyapaku.

W
aktu menunjukkan pukul 13.00, waktu Indonesia bagian tengah. Setelah mahasiswa yang mengikuti agenda KKL disibukkan dengan kunjungan, baik kunjungan resmi atau hanya kunjungan main-main saja alias rekreasi, tiba saat hari Kamis kami mengunjungi Joger. Sering ku dengar perkataan tentang Joger. Banyak yang mengatakan berkunjung ke Bali tanpa membeli barang Joger, kurang afdhol. Aku tak tahu itu dalil darimana, tapi nyatanya banyak teman-temanku yang terhipnotis oleh pernyataan itu. Sebenanya sih, aku juga agak terhipnotis. Tapi apalah kantong dompet tak menyepakati. Orang kata, joger tempat yang prestisius, untuk membelipun kami harus rela berdesakan mengantri panjang, berkunjungpun di batasi, semuanya serba berebut, lengkap pula dengan harganya yang menjulang tinggi. Sempat aku bertanya-tanya, kenapa sih bisa mahal? Beruntung sekali sang pemilik Joger ini, tak bisa ku hitung uang yang mengalir ke pundi-pundinya setiap minggu, tentu tak sebanding dengan uang sakuku.

Minggu, 06 Mei 2012

Sebotol Air Untuk Bapak


Hari ini begitu panas, membuat tenggorokanku terasa kering dan mulut sulit terbuka. Suasana kampus terasa seperti di gurun pasir yang tak berpenghuni. Semua mahasiswa sibuk dengan urusannya masing – masing. Sehingga hiruk pikuk ini terasa sepi bagiku. Aku tertawa kecil di dalam hati, hemmm. . mungkin mereka sibuk karena akan presentasi makalah dan di hadapi oleh dosen yang galak, atau bahkan dosen yang membuat kita ngantuk. Sudah. Ku hentikan lamunanku itu sejenak. Rasa haus ini membuat kakiku ingin segera melangkah ke kantin, dan mulut ini serasa ingin segera diberi kucuran air.