Bola terang di langit beranjak turun ke paraduannya, suara
jangkrik-jangkrik hutan belakang rumah berbunyi berisik. Sangat berisik
menurutku. Pasukan burung-burung berterbangan menuju sarangnya di atas pohon
mahoni. Badan burung yang nyelelasak masuk ke rerimbunan daun pohon, membuat
beberapa daun yang telah menguning jatuh ke tanah. Anak-anak burung bercit-cit
mengetahui kedatangan induk mereka.
Mengetahui akan kedatangan petang, aku beranjak menuju rumahku.
Rumah yang sempit beralaskan tanah dan berdinding kayu tipis yang di anyam,
manusia-manusia sering menyebutnya anyaman bambu. Tak ada penerangan di
rumahku, jika petang menjelang, beruntunglah kami jika ada bola terang
selanjutnya. Tapi bola terang itu tak seterang bola terang yang biasanya.
Saudara-saudaraku sudah tertidur semua. Dan aku pun mengikuti mereka. Tidur.
Tiba-tiba aku terbangun, tapi hari belum terang nampaknya. Masih
gelap gulita. Tapi ku dengar suara berdecit, suara pintu rumahku di buka.
Terdengar suara tarikan nafas, pelan tapi jelas ku kenali bahwa itu suara
tarikan nafas manusia. Ku lihat sesosok manusia masuk rumahku. Berbadan kurus,
mengenakan pakaian serba gelap nampaknya. Bau badannya tak sedap, sama seperti
bau rumahku.
