Joger
dan Aku
Ku masih bisa berjalan keluar, dan menyapa
teman-teman senasibku. Mereka yang merasa dompetnya tercekik saat melihat label
harga di dalam. Sama denganku, mereka masih bisa bernafas, tertawa, bahkan
menyapaku.
|
W
|
aktu
menunjukkan pukul 13.00, waktu Indonesia bagian tengah. Setelah mahasiswa yang
mengikuti agenda KKL disibukkan dengan kunjungan, baik kunjungan resmi atau
hanya kunjungan main-main saja alias rekreasi, tiba saat hari Kamis kami
mengunjungi Joger. Sering ku dengar perkataan tentang Joger. Banyak yang
mengatakan berkunjung ke Bali tanpa membeli barang Joger, kurang afdhol. Aku
tak tahu itu dalil darimana, tapi nyatanya banyak teman-temanku yang
terhipnotis oleh pernyataan itu. Sebenanya sih, aku juga agak terhipnotis. Tapi
apalah kantong dompet tak menyepakati. Orang kata, joger tempat yang
prestisius, untuk membelipun kami harus rela berdesakan mengantri panjang,
berkunjungpun di batasi, semuanya serba berebut, lengkap pula dengan harganya
yang menjulang tinggi. Sempat aku bertanya-tanya, kenapa sih bisa mahal?
Beruntung sekali sang pemilik Joger ini, tak bisa ku hitung uang yang mengalir
ke pundi-pundinya setiap minggu, tentu tak sebanding dengan uang sakuku.
Pertama kali masuk, aku di beri
stempel, ”VIP JOGER.” Baru kali ini aku menyandang julukan VIP, Nampak
prestisius. Ku tersenyum sedikit, hanya sedikit saja saat membaca tulisannya.
Seperti ada kebanggaan tersendiri dalam diriku. Saat ku masuki tempat itu,
ternyata semua serba ramai. Banyak yang berebut sandal, kaos, tas dan barang-barang
lainnya. Ku hanya tertegun sejenak, haruskah aku berebut seperti itu? Layaknya
ibu-ibu yang berebut beras jatah dari pemerintah, mengantri seperti orang yang
akan mengambil dana BLT, semua itu aku lihat di depan mataku. Sedikit ada rasa
ragu, tapi juga ada rasa ingin, ingin memiliki seperti apa yang mereka punya.
Barang Joger.
Ku mengantri untuk mendapatkan
sandal, aku lihat sepasang sandal berwarna merah yang amat menggairahkan hati.
Ku lihat sebentar, percayalah, hanya ku lihat sebentar. Dan aku bergegas
berpaling. Tak kepalang tanggung aku di buat heran oleh sepasang sandal itu.
Harganya nampak ingin menyerap habis uang di kantongku. Ku berhenti sejenak. Ku
raba kantong celanaku, dan ku buka isi dompetku. Terlihat uang selembar seratus
ribuan dan dua lembar lima ribuan, mereka seakan tertawa riang. Mereka seakan
tahu jika aku ragu untuk menggunakan mereka. Sial! Pikirku dalam hati. Segera
ku tutup lagi dompetku, dan ku masukkan lagi ke kantong celana. Ku tak sanggup
melihat terus-terusan isi dompetku.
Tak menyerah ku coba mengelilingi
ruangan sebelahnya. Terlihat kaos-kaos berjejer rapi. Ku tak tahu, di gaji
berapa mereka yang mau menata koas ini sehingga sedemikian rupa. Terlihat pemandangan
yang sama. Dimana-mana semua berebut. Ku coba melangkahkan kaki ini ke deretan
kaos berukuran L. Ku tarik satu potong pakaian. Ku cocokkan dulu dengan ukuran
badanku. Pas juga ternyata. Dengan di hiasi kata-kata khas joger. Sebenarnya
aku juga bisa kalau di suruh menulis kata-kata yang serupa. Lagi-lagi, harganya
seakan mencekik dompetku. Semua disini serba mahal, mungkin yang murah hanya
tas berbahan tipis yang ku temukan di pojokkan ruangan. Ah, tempat ini tak
sesuai dengan kehidupanku. Pikirku dalam hati.
Sekarang tanpa ragu
lagi aku melangkahkan kakiku. Tapi bukan untuk membeli, melainkan keluar dari
tempat ini. Tempat yang bisa saja menghabiskan seluruh uangku. Biarlah mereka
yang punya banyak uang membelinya, toh nyatanya walaupun aku punya uang, aku
juga berpikir-pikir kehidupanku yang mendatang. Jika tidak membeli barang
joger, aku tak akan mati kok. Ku masih bisa berjalan keluar, dan menyapa teman-teman
senasibku. Mereka yang merasa dompetnya tercekik saat melihat label harga di
dalam. Sama denganku, mereka masih bisa bernafas, tertawa, bahkan menyapaku.
Hidup itu memang harus sesuai, tak bisa kita selalu menuruti gengsi, kita tak
akan bisa selalu mengikuti perkembangan dunia yang ada, sebab zaman selalu
berubah. Selera orang selalu berubah, sebab itu, ada kalanya kita tidak bisa
mengikuti tuntutan zaman, bahkan tuntutan hati kita. Semua harus kita imbangi,
jangan dituruti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar