Label

Rabu, 19 Desember 2012

Joger dan Aku

Joger dan Aku
 Ku masih bisa berjalan keluar, dan menyapa teman-teman senasibku. Mereka yang merasa dompetnya tercekik saat melihat label harga di dalam. Sama denganku, mereka masih bisa bernafas, tertawa, bahkan menyapaku.

W
aktu menunjukkan pukul 13.00, waktu Indonesia bagian tengah. Setelah mahasiswa yang mengikuti agenda KKL disibukkan dengan kunjungan, baik kunjungan resmi atau hanya kunjungan main-main saja alias rekreasi, tiba saat hari Kamis kami mengunjungi Joger. Sering ku dengar perkataan tentang Joger. Banyak yang mengatakan berkunjung ke Bali tanpa membeli barang Joger, kurang afdhol. Aku tak tahu itu dalil darimana, tapi nyatanya banyak teman-temanku yang terhipnotis oleh pernyataan itu. Sebenanya sih, aku juga agak terhipnotis. Tapi apalah kantong dompet tak menyepakati. Orang kata, joger tempat yang prestisius, untuk membelipun kami harus rela berdesakan mengantri panjang, berkunjungpun di batasi, semuanya serba berebut, lengkap pula dengan harganya yang menjulang tinggi. Sempat aku bertanya-tanya, kenapa sih bisa mahal? Beruntung sekali sang pemilik Joger ini, tak bisa ku hitung uang yang mengalir ke pundi-pundinya setiap minggu, tentu tak sebanding dengan uang sakuku.
            Pertama kali masuk, aku di beri stempel, ”VIP JOGER.” Baru kali ini aku menyandang julukan VIP, Nampak prestisius. Ku tersenyum sedikit, hanya sedikit saja saat membaca tulisannya. Seperti ada kebanggaan tersendiri dalam diriku. Saat ku masuki tempat itu, ternyata semua serba ramai. Banyak yang berebut sandal, kaos, tas dan barang-barang lainnya. Ku hanya tertegun sejenak, haruskah aku berebut seperti itu? Layaknya ibu-ibu yang berebut beras jatah dari pemerintah, mengantri seperti orang yang akan mengambil dana BLT, semua itu aku lihat di depan mataku. Sedikit ada rasa ragu, tapi juga ada rasa ingin, ingin memiliki seperti apa yang mereka punya. Barang Joger.
            Ku mengantri untuk mendapatkan sandal, aku lihat sepasang sandal berwarna merah yang amat menggairahkan hati. Ku lihat sebentar, percayalah, hanya ku lihat sebentar. Dan aku bergegas berpaling. Tak kepalang tanggung aku di buat heran oleh sepasang sandal itu. Harganya nampak ingin menyerap habis uang di kantongku. Ku berhenti sejenak. Ku raba kantong celanaku, dan ku buka isi dompetku. Terlihat uang selembar seratus ribuan dan dua lembar lima ribuan, mereka seakan tertawa riang. Mereka seakan tahu jika aku ragu untuk menggunakan mereka. Sial! Pikirku dalam hati. Segera ku tutup lagi dompetku, dan ku masukkan lagi ke kantong celana. Ku tak sanggup melihat terus-terusan isi dompetku.
            Tak menyerah ku coba mengelilingi ruangan sebelahnya. Terlihat kaos-kaos berjejer rapi. Ku tak tahu, di gaji berapa mereka yang mau menata koas ini sehingga sedemikian rupa. Terlihat pemandangan yang sama. Dimana-mana semua berebut. Ku coba melangkahkan kaki ini ke deretan kaos berukuran L. Ku tarik satu potong pakaian. Ku cocokkan dulu dengan ukuran badanku. Pas juga ternyata. Dengan di hiasi kata-kata khas joger. Sebenarnya aku juga bisa kalau di suruh menulis kata-kata yang serupa. Lagi-lagi, harganya seakan mencekik dompetku. Semua disini serba mahal, mungkin yang murah hanya tas berbahan tipis yang ku temukan di pojokkan ruangan. Ah, tempat ini tak sesuai dengan kehidupanku. Pikirku dalam hati.
Sekarang tanpa ragu lagi aku melangkahkan kakiku. Tapi bukan untuk membeli, melainkan keluar dari tempat ini. Tempat yang bisa saja menghabiskan seluruh uangku. Biarlah mereka yang punya banyak uang membelinya, toh nyatanya walaupun aku punya uang, aku juga berpikir-pikir kehidupanku yang mendatang. Jika tidak membeli barang joger, aku tak akan mati kok. Ku masih bisa berjalan keluar, dan menyapa teman-teman senasibku. Mereka yang merasa dompetnya tercekik saat melihat label harga di dalam. Sama denganku, mereka masih bisa bernafas, tertawa, bahkan menyapaku. Hidup itu memang harus sesuai, tak bisa kita selalu menuruti gengsi, kita tak akan bisa selalu mengikuti perkembangan dunia yang ada, sebab zaman selalu berubah. Selera orang selalu berubah, sebab itu, ada kalanya kita tidak bisa mengikuti tuntutan zaman, bahkan tuntutan hati kita. Semua harus kita imbangi, jangan dituruti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar