Label

Selasa, 28 Mei 2013

MANUSIA PETANG HARI


Bola terang di langit beranjak turun ke paraduannya, suara jangkrik-jangkrik hutan belakang rumah berbunyi berisik. Sangat berisik menurutku. Pasukan burung-burung berterbangan menuju sarangnya di atas pohon mahoni. Badan burung yang nyelelasak masuk ke rerimbunan daun pohon, membuat beberapa daun yang telah menguning jatuh ke tanah. Anak-anak burung bercit-cit mengetahui kedatangan induk mereka.
Mengetahui akan kedatangan petang, aku beranjak menuju rumahku. Rumah yang sempit beralaskan tanah dan berdinding kayu tipis yang di anyam, manusia-manusia sering menyebutnya anyaman bambu. Tak ada penerangan di rumahku, jika petang menjelang, beruntunglah kami jika ada bola terang selanjutnya. Tapi bola terang itu tak seterang bola terang yang biasanya. Saudara-saudaraku sudah tertidur semua. Dan aku pun mengikuti mereka. Tidur.
Tiba-tiba aku terbangun, tapi hari belum terang nampaknya. Masih gelap gulita. Tapi ku dengar suara berdecit, suara pintu rumahku di buka. Terdengar suara tarikan nafas, pelan tapi jelas ku kenali bahwa itu suara tarikan nafas manusia. Ku lihat sesosok manusia masuk rumahku. Berbadan kurus, mengenakan pakaian serba gelap nampaknya. Bau badannya tak sedap, sama seperti bau rumahku.

Sadar bahwa yang masuk sosok asing bagiku, maka aku bergegas lari ke pojokan rumahku. Saudara-saudaraku ikut berlarian, berteriak-teriak tak karuan. sehingga menimbulkan kegaduhan.
Sosok manusia itu terus memburu, mencoba menangkap kami. Tapi karena sangat gelap, maka banyak yang meloloskan diri. Malang menimpaku, aku yang berlari kepojokan tak bisa lari kemana-mana. Ku hanya bisa berteriak sejadi-jadinya. Maka saat sepasang tangan manusia menangkapku, aku berteriak semakin keras. Ku coba melepaskan diri dari genggaman tangannya,tapi tak berhasil. Nafas manusia itu nampak memburu pelan. Entah apa yang baru saja ia makan, tapi sungguh aku tak suka dengan bau mulutnya itu.
Dia segera keluar dari rumah ku dengan aku di genggaman tangannya. Aku terus berteriak, tapi manusia itu segara membekap mulutku sehingga aku agak sulit mengambil nafas. Manusia itu terus berjalan berjinjit-jinjit pelan menjauhi rumahku, saat itu saudara-saudaraku sudah tak terdengar berisik lagi. Aku semakin takut dengan manusia ini. Hendak dibawa kemanakah aku? Aku tak mau meninggalkan rumahku, maka aku meronta sejadi-jadinya. Saat aku berhasil lepas dari tangannya, aku segera berlari menuju cahaya terang yang ada di rumah yang besar itu. Manusia itu terus memburuku. Aku terus saja berlari sambil berteriak-teriak. Sepertinya manusia di rumah besar nan terang itu mengetahui kegaduhan ini. Terdengar suara bercakap-cakap di rumah itu.
Namun malang nasibku, manusia tadi berhasil menangkapku dan segera membawaku pergi ke rerimbunan pepohonan. Manusia itu terus berlari dan berlari menjauhi rumah besar yang terang itu. Terdengar suara memanggil-manggil dari kejauhan. Kemudian suara langkah kaki berlari mengejar aku dan manusia tadi. Manusia tadi semakin lekas berlari sampai tersungkur, tapi ia bergegas bangun. Sadar bahwa kakinya terasa sakit, maka manusia tadipun segera menyingkir di belakang pohon dan memanjat pohon besar itu. Setelah sampai di atas dia membekap mulutku semakin kencang.
Selang sebentar manusia-manusia yang lebih banyak datang menuju kami, dan berhenti tepat di bawah pohon yang kami panjat. Manusia-manusia yang lebih banyak itu saling bercakap-cakap dan menyorot cahaya ke rerimbunan tanaman. Nampaknya mereka berunding.
Aku dan manusia tadi mematung di atas pohon. Diam membisu walau di bawah kami amat berisik. Tapi secara tiba-tiba terjadi suatu kontraksi di dalam perutku. Sesuatu yang tak bisa ku tahan keluar dari bagian tubuhku ini. Dan jatuhnya tepat di kepala salah satu manusia yang ada di bawah pohon. Manusia tersebut segera menyadari ada yang aneh pada kepalanya, setelah meraba di atas kepala dan menyadari bahwa baunya tak sedap, maka manusia itu segara menyorotkan cahaya ke atas pohon.
Manusia di samping langsung panik. Manusia-manusia di bawah pohon langsung berteriak-teriak dan menggoyang-goyongkan pohon itu. Tubuh manusia di atas pohon yang tadinya mematung tiba-tiba bergetar hebat. Manusia-manusia di bawah pohon semakin keras menggoyang-goyangkan pohon ini. Saking dahsyatnya goyangan, manusia di atas pohon tersebut langsung jatuh ke tanah. Aku pun ikut terjatuh, dan beruntung aku terlepas dari tangannya dan segera bergegas menjauh. Manusia yang tadi membawaku langsung dikerumuni oleh manusia-manusia lainnya, sambil menghantamkan sesuatu. Hingga manusia tadi tak berdaya dibuatnya.
***

Malam itu, seekor ayam yang baru saja di curi oleh Kardun seorang penjudi yang selalu gagal judi berhasil meloloskan diri. Si Kardun yang bersembunyi di atas pohon jambu berhasil di temukan warga karena ayam curiannya membuang kotoran tepat di kepala Bajuri yang seorang mandor perkebunan kelapa sawit. Nasib Kardun na’as karena mati di pukuli warga, beruntung si ayam tadi selamat dan bisa tidur nyenyak lagi di kandangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar