Bola terang di langit beranjak turun ke paraduannya, suara
jangkrik-jangkrik hutan belakang rumah berbunyi berisik. Sangat berisik
menurutku. Pasukan burung-burung berterbangan menuju sarangnya di atas pohon
mahoni. Badan burung yang nyelelasak masuk ke rerimbunan daun pohon, membuat
beberapa daun yang telah menguning jatuh ke tanah. Anak-anak burung bercit-cit
mengetahui kedatangan induk mereka.
Mengetahui akan kedatangan petang, aku beranjak menuju rumahku.
Rumah yang sempit beralaskan tanah dan berdinding kayu tipis yang di anyam,
manusia-manusia sering menyebutnya anyaman bambu. Tak ada penerangan di
rumahku, jika petang menjelang, beruntunglah kami jika ada bola terang
selanjutnya. Tapi bola terang itu tak seterang bola terang yang biasanya.
Saudara-saudaraku sudah tertidur semua. Dan aku pun mengikuti mereka. Tidur.
Tiba-tiba aku terbangun, tapi hari belum terang nampaknya. Masih
gelap gulita. Tapi ku dengar suara berdecit, suara pintu rumahku di buka.
Terdengar suara tarikan nafas, pelan tapi jelas ku kenali bahwa itu suara
tarikan nafas manusia. Ku lihat sesosok manusia masuk rumahku. Berbadan kurus,
mengenakan pakaian serba gelap nampaknya. Bau badannya tak sedap, sama seperti
bau rumahku.
Sadar bahwa yang masuk sosok asing bagiku, maka aku bergegas lari
ke pojokan rumahku. Saudara-saudaraku ikut berlarian, berteriak-teriak tak
karuan. sehingga menimbulkan kegaduhan.
Sosok manusia itu terus memburu, mencoba menangkap kami. Tapi
karena sangat gelap, maka banyak yang meloloskan diri. Malang menimpaku, aku
yang berlari kepojokan tak bisa lari kemana-mana. Ku hanya bisa berteriak
sejadi-jadinya. Maka saat sepasang tangan manusia menangkapku, aku berteriak
semakin keras. Ku coba melepaskan diri dari genggaman tangannya,tapi tak berhasil.
Nafas manusia itu nampak memburu pelan. Entah apa yang baru saja ia makan, tapi
sungguh aku tak suka dengan bau mulutnya itu.
Dia segera keluar dari rumah ku dengan aku di genggaman tangannya.
Aku terus berteriak, tapi manusia itu segara membekap mulutku sehingga aku agak
sulit mengambil nafas. Manusia itu terus berjalan berjinjit-jinjit pelan
menjauhi rumahku, saat itu saudara-saudaraku sudah tak terdengar berisik lagi.
Aku semakin takut dengan manusia ini. Hendak dibawa kemanakah aku? Aku tak mau
meninggalkan rumahku, maka aku meronta sejadi-jadinya. Saat aku berhasil lepas
dari tangannya, aku segera berlari menuju cahaya terang yang ada di rumah yang
besar itu. Manusia itu terus memburuku. Aku terus saja berlari sambil
berteriak-teriak. Sepertinya manusia di rumah besar nan terang itu mengetahui
kegaduhan ini. Terdengar suara bercakap-cakap di rumah itu.
Namun malang nasibku, manusia tadi berhasil menangkapku dan segera
membawaku pergi ke rerimbunan pepohonan. Manusia itu terus berlari dan berlari
menjauhi rumah besar yang terang itu. Terdengar suara memanggil-manggil dari
kejauhan. Kemudian suara langkah kaki berlari mengejar aku dan manusia tadi.
Manusia tadi semakin lekas berlari sampai tersungkur, tapi ia bergegas bangun.
Sadar bahwa kakinya terasa sakit, maka manusia tadipun segera menyingkir di
belakang pohon dan memanjat pohon besar itu. Setelah sampai di atas dia
membekap mulutku semakin kencang.
Selang sebentar manusia-manusia yang lebih banyak datang menuju
kami, dan berhenti tepat di bawah pohon yang kami panjat. Manusia-manusia yang
lebih banyak itu saling bercakap-cakap dan menyorot cahaya ke rerimbunan
tanaman. Nampaknya mereka berunding.
Aku dan manusia tadi mematung di atas pohon. Diam membisu walau di
bawah kami amat berisik. Tapi secara tiba-tiba terjadi suatu kontraksi di dalam
perutku. Sesuatu yang tak bisa ku tahan keluar dari bagian tubuhku ini. Dan
jatuhnya tepat di kepala salah satu manusia yang ada di bawah pohon. Manusia
tersebut segera menyadari ada yang aneh pada kepalanya, setelah meraba di atas
kepala dan menyadari bahwa baunya tak sedap, maka manusia itu segara
menyorotkan cahaya ke atas pohon.
Manusia di samping langsung panik. Manusia-manusia di bawah pohon
langsung berteriak-teriak dan menggoyang-goyongkan pohon itu. Tubuh manusia di
atas pohon yang tadinya mematung tiba-tiba bergetar hebat. Manusia-manusia di
bawah pohon semakin keras menggoyang-goyangkan pohon ini. Saking dahsyatnya
goyangan, manusia di atas pohon tersebut langsung jatuh ke tanah. Aku pun ikut
terjatuh, dan beruntung aku terlepas dari tangannya dan segera bergegas
menjauh. Manusia yang tadi membawaku langsung dikerumuni oleh manusia-manusia
lainnya, sambil menghantamkan sesuatu. Hingga manusia tadi tak berdaya
dibuatnya.
***
Malam
itu, seekor ayam yang baru saja di curi oleh Kardun seorang penjudi yang selalu
gagal judi berhasil meloloskan diri. Si Kardun yang bersembunyi di atas pohon
jambu berhasil di temukan warga karena ayam curiannya membuang kotoran tepat di
kepala Bajuri yang seorang mandor perkebunan kelapa sawit. Nasib Kardun na’as
karena mati di pukuli warga, beruntung si ayam tadi selamat dan bisa tidur
nyenyak lagi di kandangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar