Label

Minggu, 06 Mei 2012

Sebotol Air Untuk Bapak


Hari ini begitu panas, membuat tenggorokanku terasa kering dan mulut sulit terbuka. Suasana kampus terasa seperti di gurun pasir yang tak berpenghuni. Semua mahasiswa sibuk dengan urusannya masing – masing. Sehingga hiruk pikuk ini terasa sepi bagiku. Aku tertawa kecil di dalam hati, hemmm. . mungkin mereka sibuk karena akan presentasi makalah dan di hadapi oleh dosen yang galak, atau bahkan dosen yang membuat kita ngantuk. Sudah. Ku hentikan lamunanku itu sejenak. Rasa haus ini membuat kakiku ingin segera melangkah ke kantin, dan mulut ini serasa ingin segera diberi kucuran air.
“Mbak, air mineral satu!” kataku pada mbak – mbak penjual kantin, yang entah tak tahu kenapa sudah 3 tahun aku kuliah disini dan jajan di kantin ini, tapi aku tak pernah tahu namanya. Hahahaha.. mungkin suatu saat aku perlu untuk berkenalan dengannya.
“Ini mas Seno.” Sambil menyerahkan sebotol air mineral, mbak kantin itu tersenyum padaku, dan ku balas dengan senyuman pula. Sial! Kenapa itu mbak – mbak tahu namaku? Sedang aku tak tahu siapa namanya? Apa mungkin aku terkenal di kampus ini? Pikiran gedhe rumangsa ku umat lagi.
Ku duduk di bawah pohon di tengah – tengah kampus. Ku minum seteguk air mineral itu pelan – pelan. Rasanya ada suatu peristiwa yang terlintas di benakku. Akh, Bapak! Kejadian ini terjadi saat aku masih TK.
Bapakku hanya orang biasa, dia seorang tukang kebersihan di sebuah komplek perumahan elit. Setiap ada penghuni perumahan yang butuh bantuan, pasti Bapakku akan segera di panggilnya. Untuk sekedar membersihkan halaman, genteng bocor, parit yang mampat karena dedaunan, atau hanya untuk sekedar jaga rumah. Yah, pak Salim. Bapakku terhebat.
Suatu ketika Bapak di panggil oleh seseorang untuk membersihkan parit depan rumahnya yang mampat karena sampah. Parit ini bukan masalah mudah. Parit ini cukup besar, hingga untuk membersihkannya Bapak perlu jongkok di dasar parit. Seperti biasa aku mengikuti Bapak bekerja, Bapak pikir aku bisa membantunya, semampuku.
Ku lihat ayat begitu semangat. Iya terus berusaha mengais – ngais sampah yang ada di parit itu. Mungkin banyak orang yang memandang remeh parit itu. Tapi bagi keluarga kami, itu adalah rejeki.
“Seno!” panggil Bapakku.
Tanpa banyak bicara aku segera maju.
“Tolong belikan bapak air mineral, ya!” kata Bapak sambil merogoh kantong celananya yang nampaknya hampir robek. Ia memberiku uang tiga ribu rupiah. Aku tahu itu pasti uang satu – satunya milik Bapak. 

Aku mengangguk. Aku berlari. Kekuatanku dan semangatku masih membara saat itu. Sampai – sampai untuk sekedar membelikan Bapak air mineral aku sanggup berlari secepat tenagaku. Tapi kenyataan setelah aku dewasa, rasa dan kekuatan itu lama – lama pudar.
Sesampai di warung ku tatap banyak jajanan yang berhias bak sebuah istana jajan. Hemmm.. otak kecilku nampaknya mulai konslet. Mataku terpana pada tumpukan coklat batangan di atas almari itu. Itu nampaknya enak dan sering muncul di televisi. Kata orang – orang di televisi, itu enak dan membuat hati kita senang. Astaga, sewaktu kecil aku belum tahu kalau itu semua hanya rekayasa iklan.
Hasrat itu pun muncul.
“Bu, beli coklat itu!” kataku sembari menunjuk coklat tersebut.
“Lima ribu ya, dek.” Kata penjual itu.
“Tapi uangku Cuma tiga ribu? Nanti sisanya biar Bapak yang bayar ya, bu?”
Setelah berhasil mendapatkan coklat itu aku bergegas pergi. Ah, pikirku, Bapak pasti maklum. Bapak pasti tak akan marah. Bapak pasti akan senang aku belikan coklat ini. Bapak pasti belum pernah makan coklat ini.
“Mana minumnya?” tanya Bapak.
“Aku beliin coklat. Ini rasanya lebih enak.” Jawabku polos.
“Heh! Bapakmu ini haus, bukan mau nyicipi makanan kayak gitu! Berapa itu harganya?”
“Lima ribu.” Jawabku lagi tanpa merasa bersalah.
“Aduh, dasar anak nakal. Sukanya jajan terus! Bapak ini sudah banyak utang di warung itu. Kenapa kamu tambahi?”
Sial. Mungkin bapak tak tahu bahwa anak sekecil itu belum bisa mikir kalau bapaknya punya hutang.
“Sudahlah. Sana pulang saja!” kata bapakku membentak. Nampaknya dia kesal sekali.
Dan sejak saat itu bapak tak pernah mengajakku bekerja. Dia hanya pinta aku untuk belajar. Jadi anak pintar. Hanya itu permintaan bapakku. Dan tak akan mungkin aku selewengkan permintaan bapakku itu. Sungguh permintaan yang sangat mudah di ucapkannya, tapi sulit untuk ku wujudkan.
Kini Bapak telah renta. Dan sekarang, air mineral itu akan ku ganti dengan gelar sarjana di samping namaku. Bapak pasti akan bangga punya anak bernama SENO ADJI SETIAWAN, S.Sos.i.

By : Khanessa
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar