Hari
ini begitu panas, membuat tenggorokanku terasa kering dan mulut sulit
terbuka. Suasana kampus terasa seperti di gurun pasir yang tak
berpenghuni. Semua mahasiswa sibuk dengan urusannya masing –
masing. Sehingga hiruk pikuk ini terasa sepi bagiku. Aku tertawa
kecil di dalam hati, hemmm. . mungkin mereka sibuk karena akan
presentasi makalah dan di hadapi oleh dosen yang galak, atau bahkan
dosen yang membuat kita ngantuk. Sudah. Ku hentikan lamunanku itu
sejenak. Rasa haus ini membuat kakiku ingin segera melangkah ke
kantin, dan mulut ini serasa ingin segera diberi kucuran air.
“Mbak,
air mineral satu!” kataku pada mbak – mbak penjual kantin, yang
entah tak tahu kenapa sudah 3 tahun aku kuliah disini dan jajan di
kantin ini, tapi aku tak pernah tahu namanya. Hahahaha.. mungkin
suatu saat aku perlu untuk berkenalan dengannya.
“Ini
mas Seno.” Sambil menyerahkan sebotol air mineral, mbak kantin itu
tersenyum padaku, dan ku balas dengan senyuman pula. Sial! Kenapa itu
mbak – mbak tahu namaku? Sedang aku tak tahu siapa namanya? Apa
mungkin aku terkenal di kampus ini? Pikiran gedhe
rumangsa ku
umat lagi.
Ku duduk di bawah
pohon di tengah – tengah kampus. Ku minum seteguk air mineral itu
pelan – pelan. Rasanya ada suatu peristiwa yang terlintas di
benakku. Akh, Bapak! Kejadian ini terjadi saat aku masih TK.
Bapakku
hanya orang biasa, dia seorang tukang kebersihan di sebuah komplek
perumahan elit. Setiap ada penghuni perumahan yang butuh bantuan,
pasti Bapakku akan segera di panggilnya. Untuk sekedar membersihkan
halaman, genteng bocor, parit yang mampat karena dedaunan, atau hanya
untuk sekedar jaga rumah. Yah, pak Salim. Bapakku terhebat.
Suatu
ketika Bapak di panggil oleh seseorang untuk membersihkan parit depan
rumahnya yang mampat karena sampah. Parit ini bukan masalah mudah.
Parit ini cukup besar, hingga untuk membersihkannya Bapak perlu
jongkok di dasar parit. Seperti biasa aku mengikuti Bapak bekerja,
Bapak pikir aku bisa membantunya, semampuku.
Ku
lihat ayat begitu semangat. Iya terus berusaha mengais – ngais
sampah yang ada di parit itu. Mungkin banyak orang yang memandang
remeh parit itu. Tapi bagi keluarga kami, itu adalah rejeki.
“Seno!”
panggil Bapakku.
Tanpa
banyak bicara aku segera maju.
“Tolong
belikan bapak air mineral, ya!” kata Bapak sambil merogoh kantong
celananya yang nampaknya hampir robek. Ia memberiku uang tiga ribu
rupiah. Aku tahu itu pasti uang satu – satunya milik Bapak.
Aku
mengangguk. Aku berlari. Kekuatanku dan semangatku masih membara saat
itu. Sampai – sampai untuk sekedar membelikan Bapak air mineral aku
sanggup berlari secepat tenagaku. Tapi kenyataan setelah aku dewasa,
rasa dan kekuatan itu lama – lama pudar.
Sesampai
di warung ku tatap banyak jajanan yang berhias bak sebuah istana
jajan. Hemmm.. otak kecilku nampaknya mulai konslet. Mataku terpana
pada tumpukan coklat batangan di atas almari itu. Itu nampaknya enak
dan sering muncul di televisi. Kata orang – orang di televisi, itu
enak dan membuat hati kita senang. Astaga, sewaktu kecil aku belum
tahu kalau itu semua hanya rekayasa iklan.
Hasrat
itu pun muncul.
“Bu,
beli coklat itu!” kataku sembari menunjuk coklat tersebut.
“Lima
ribu ya, dek.” Kata penjual itu.
“Tapi
uangku Cuma tiga ribu? Nanti sisanya biar Bapak yang bayar ya, bu?”
Setelah
berhasil mendapatkan coklat itu aku bergegas pergi. Ah, pikirku,
Bapak pasti maklum. Bapak pasti tak akan marah. Bapak pasti akan
senang aku belikan coklat ini. Bapak pasti belum pernah makan coklat
ini.
“Mana
minumnya?” tanya Bapak.
“Aku
beliin coklat. Ini rasanya lebih enak.” Jawabku polos.
“Heh!
Bapakmu ini haus, bukan mau nyicipi makanan kayak gitu! Berapa itu
harganya?”
“Lima
ribu.” Jawabku lagi tanpa merasa bersalah.
“Aduh,
dasar anak nakal. Sukanya jajan terus! Bapak ini sudah banyak utang
di warung itu. Kenapa kamu tambahi?”
Sial.
Mungkin bapak tak tahu bahwa anak sekecil itu belum bisa mikir kalau
bapaknya punya hutang.
“Sudahlah.
Sana pulang saja!” kata bapakku membentak. Nampaknya dia kesal
sekali.
Dan
sejak saat itu bapak tak pernah mengajakku bekerja. Dia hanya pinta
aku untuk belajar. Jadi anak pintar. Hanya itu permintaan bapakku.
Dan tak akan mungkin aku selewengkan permintaan bapakku itu. Sungguh
permintaan yang sangat mudah di ucapkannya, tapi sulit untuk ku
wujudkan.
Kini
Bapak telah renta. Dan sekarang, air mineral itu akan ku ganti dengan
gelar sarjana di samping namaku. Bapak pasti akan bangga punya anak
bernama SENO ADJI SETIAWAN, S.Sos.i.
By : Khanessa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar