Tradisi Fenomenologi
Tradisi
fenomenologi berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk bagian dari
individu – individu yang ada saling memberikan pengalaman satu sama lainnya.
Komunikasi di pandang sebagai proses berbagi pengalaman atau informasi antar
individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang
tinggi dalam tradisi ini. Dalam tradisi ini mengatakan bahwa bahasa adalah
mewakili suatu pemaknaan terhadap benda. Jadi, satu kata saja sudah dapat
memberikan pemaknaan pada suatu hal yang ingin di maknai.
Inti dari tradisi
fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang
alamiah. Tradisi memandang manusia secara aktif mengintrepretasikan pengalaman
mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal
dan langsung dengan lingkungannya. Titik berat tradisi fenomenologi adalah Pada
bagaimana individu mempersepsi serta memberikan interpretasi pada pengalaman
subyektifnya. Adapun varian dari tradisi Fenomenologi ini adalah,:
a.
Fenomena
Klasik, percaya pada kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan
pengalaman, artinya hanya mempercayai suatu kebenaran dari sudut pandangnya
tersendiri atau obyektif.
b.
Fenomenologi
Persepsi, percaya pada suatu kebenaran bisa di dapatkan dari sudut pandang yang
berbeda – beda, tidak hanya membatasi fenomenologi pada obyektifitas, atau bisa
dikatakan lebih subyektif.
c.
Fenomenologi
Hermeneutik, percaya pada suatu kebenaran yang di tinjau baik dari aspek
obyektifitas maupun subyektifitasnya, dan juga disertai dengan analisis guna
menarik suatu kesimpulan.
boleh tau sumber buku nya apa ya?
BalasHapus