Label

Rabu, 19 Desember 2012

Makalah Tasawuf

I.                   PENDAHULUAN

Perikehidupan (sirah) Nabi SAW merupakan benih – benih tasawuf, yaitu pribadi Nabi yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Cara beribadah Nabi juga merupakan cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat di sebutkan bahwa pada suatu malam, Nabi mengerjakan Shalat malam. Saat itu lututnya bergetar karena panjang dan banyaknya rakaat serta kekhusyukan beliau dalam shalatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya, namun beliau tetap terus melakukan shalat sampai suara adzan bilal bin rabah terdengar di waktu subuh. Melihat Nabi Muhammad demikian tekun melakukan shalat, Aisyah bertanya, “Wahai junjunganku, bukanlah dosamu yang terdahulu dan akan datang telah di ampuni Allah, kenapa engkau masih terlalu banyak melakukan shalat?” Nabi menjawab “Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur.” H.R Bukhari dan Muslim.
Akhlak Nabi Muhammad merupakan acuan akhlak yang tiada bandingnya. Akhlak Nabi bukan hanya di puji oleh manusia termasuk musuh – musuhnya, tetapi juga Allah SWT.
Ajaran rasul tentang bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari – hari banyak diikuti oleh para sahabatnya, dilanjutkan oleh para tabi’in, tabiit tabi’in, dan seluruh muslim hingga saat ini.
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
21.  Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Demikianlah sekilas asal usul tasawuf dalam islam, jelas asal usul tasawuf Islam bersumber dari Al – Qur’an dan Hadis. Akan tetapi, perlu kita perhatikan pendapat dari kalangan Orientalis Barat. Mereka mengatakan bahwa sumber yang  membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur islam, unsur masehi (agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu Budha, dan Unsur Persia.[1]

II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Apa sajakah  sumber – sumber tasawuf?

III.             PEMBAHASAN

A.    SUMBER – SUMBER TASAWUF
Di kalangan para orientalis Barat Biasanya di jumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur Masehi (Agama nasrani), Unsur Yunani, Unsur Hindu/Budha dan Unsur Persia. Kelima unsur ini secara ringkas dapat di jelaskan sebagai berikut:

1.      Unsur Islam
      Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah itulah kemudian lahirlah tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran islam, Al – Qur’an dan al – sunnah serta praktek kehidupan nabi dan para sahabatnya.
      Suatu hadist mengatakan, “Senantiasalah seorang hamba itu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan – amalan sunat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila mencintainya maka jadilah Aku Pendengarannya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninju dan berjalan.”
      Hadist tersebut di atas memberi petunjuk bahwa antara manusia dan Tuhan bisa bersatu. Diri manusia bisa lebur dalam diri Tuhan, yang selanjutnya di kenal dengan istilah al-Fana’, yaitu Fana-nya makhluk sebagai yang mencintai kepada diri Tuhan sebagai yang dicintai.
      Di kalangan para sahabat pun ada pula orang yang mengikuti praktek bertasawuf sebagaimana yang diamalkan nabi, Abu Bakar misalnya berkata : “Aku mendapat kemuliaan dan ketakwaan, kefanaan dalam keagungan dan rendah hati. Demikian pula khalifah Umar Ibn Khatab pada suatu ketika pernah berkhutbah di hadapan jamaah kaum muslimin dalam keadaan pakaian yang sangat sederhana. Selanjutnya khalifat Usman Ibn Affan banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah dan membaca al – qur’an. Baginya Al Qur’an ibarat surat dari kekasih yang selalu dibawa dan dibaca kemanapun ia pergi.
      Selain sumber – sumber di atas, situasi masyarakat pada masa itu pun ikut serta mempersubur lahirnya tasawuf. Setelah islam tersebar keseluruh penjuru dan makin kokoh pemerintahan Islam serta semakin makmurnya masyarakat, maka mulai timbul pola hidup yang bermewah – mewahan dan berfoya – foya. Dalam keadaan demikian timbullah sekelompok masyarakat yang melakukan protes dengan cara hidup zuhud, seperti yang diperlihatkan oleh Hasan al-Basri. Tokoh ini dengan gigih dan gayanya yang retorik telah mampu mengembalikan kaum muslimin kepada garis agama dan muncullah kehidupan sufistik. Sikap protes ini kemudian mendapat simpatik dari masyarakat dan timbullah pola hidup tasawuf.
      Bersamaan dengan itu pada masa ini timbul pula aliran – aliran keagamaan, seperti aliran Khawarij, Muktazilah dan lain – lain. Aliran keagamaan ini dikenal banyak mempergunakan rasio dalam mendukung ide  - idenya. Untuk membendung aliran ini, maka timbullah kelompok yang tidak mau terlibat dalam penggunaan akal untuk membahas soal – soal tasawuf. Kelompok yang terakhir ini berusaha mengasingkan diri dan memusatkan diri untuk  beribadah kepada Allah.[2]
      Dari informasi tersebut terlihat bawa munculnya tasawuf di kalangan ummat islam bersumber pada dorongan ajaran Islam dan faktor situasi sosial dan sejarah kehidupan masyarakat pada umumnya. [3]



2.      Unsur Masehi (Agama Nasrani)
      Mereka yang beranggapan bahwa tasawuf berasal dari unsur Nasrani mendasarkan pada argumentasinya pada dua hal: Pertama, adanya suatu interaksi antara orang – orang Arab dan kaum Nasrani pada masa Jahiliyah maupun zaman Islam. Kedua, adanya segi – segi kesamaan antara kehidupan para asketis atau sufi dalam hal ini ajaran serta tata cara mereka melatih jiwa dan mengasingkan diri  dengan kehidupan Al – Masih dan ajaran – ajarannya, serta dengan para rahib ketika sembahyang dan berpakaian. [4]
      Pokok – pokok ajaran tasawuf yang diklaim berasal dari agama Nashrani antara lain adalah :
·         Sikap Fakir. Al – Masih adalah fakir dan injil disampaikan kepada orang fakir sebagimana di katakana Isa dalam Injil Matius, ” Beruntunglah kamu orang – orang miskin karena bagi kamulah kerajaan Allah. Beruntunglah kamu orang yang lapar karena kamu akan kenyang.”
·         Tawakal kepada Allah dalam soal penghidupan. Para pendeta telah mengamalkan dalam sejarah hidupnya, sebagaimana di katakana dalam injil, “Perhatikan burung-burung di langit, dia tidak menanam, dia tidak mengentam dan tidak duka cita pada waktu susah. Bapak kamu dari langit member kekuatan kepadanya. Bukankah kamu lebih mulia daripada burung.?”
·         Peranan Syekh yang menyerupai pendeta. Bedanya pendeta dapat menghapuskan dosa.
·         Selibasi, yaitu menahan diri tidak kawin karena kawin dianggap bisa mengalihkan diri dari Tuhan.
·         Penyaksian, di mana sufi menyaksikan hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah, demikian pula Injil telah menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan Tuhan.[5]


3.      Unsur Yunani
      Kebudayaan Yunani, yaitu filsafatnya, telah masuk pada dunia Islam yang perkembangannya dimulai pada akhir daulah Umayyah dan puncaknya pada daulah Abbasiyah. Metode berpikir  filsafat Yunani juga telah ikut mempengaruhi pola pikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Pada persoalan ini, boleh jadi, tasawuf yang terkena pengaruh Yunani adalah Tasawuf yang kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf yang bercorak filsafat.
      Selain itu, ada yang mengatakan bahwa masuknya filsafat ke dunia Islam melalui mazhab paripatetik dan Neo-Platonisme. Filsafat emanisasi-nya Plotinus yang mengatakan bahwa wujud memancar dari Dzat Tuhan yang Maha Esa menjadi salah satu dasar argumentasi para orientalis dalam menyikapi asal mula tasawuf Islam. Dalam emanasi-nya, Plotinus menjelaskan bahwa roh berasal daru Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Akan tetapi, ketika masuk kea lam materi, roh menjadi kotor, dan untuk kembali ke tempat asalnya, roh harus di bersihkan terlebih dahulu. Penyucian roh dilakukan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sebisa mungkin, atau bersama dengan Tuhan. Dikatakan pula bahwa filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.[6]

4.      Unsur Hindu / Budha
      Antara tasawuf dan sistem kepercayaan agama Hindu dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir, darwisy. Al-Birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu. Kemudian pula paham reinkarnasi[7], cara kelepasan dari dunia versi Hindu/Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah.
      Salah satu maqomat Sufiah al-fana nampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang Nirwana dalam agama Hindu. Menurut Qomar Kailani pendapat – pendapat ini terlalu ekstrim sekali karena kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dai Hindu/Budha berarti pada zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu/Budha itu ke Mekkah, padahal sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu[8].

5.      Unsur Persia
      Sebenarnya, Arab dan Persia memiliki hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik, pemikiran, kemasyarakat, dan sastra. Akan tetapi, belum ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Sekalipun demikian, kehidupan kerohanian Arab masuk Persia hingga orang – orang Persia itu terkenal sebagai ahli – ahli tasawuf. Barangkali ada persamaan antara istilah zuhud di Arab dan zuhud menurut agama Manu dan Masdaq; antara istilah Hakikat Muhammad dan paham Hormuz[9] dalam agama Zarathustra. [10]

IV.             KESIMPULAN
      Dari semua uraian ini dapatlah di simpulkan bahwa sebenarnya tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri mengingat yang di praktekan Nabi dan para sahabat. Hal ini dapat di lihat dari azas – azasnya. Semuanya berlandaskan kepada kepada Al – Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa setelah tasawuf itu berkembang menjadi pemikiran dia mendapat pengaruh dari filsafat Yunani, Hindu, Persia dan lain sebagainya, dan hal ini tidak hanya terjadi dalam bidang tasawuf saja melainkan juga dalam bidang lainnya. Seandainya terdapat persamaan dengan beberapa agama samawi (Nasrani dan Yahudi), karena semua agama samawi berasal dari Tuhan yang sama, Allah SWT., yang dalam islam diyakini mengajarkan ketauhidan.
     


V.                PENUTUP
Demikianlah makalah ini saya susun, semoga dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan kita secara umumnya, dan bagi penulis secara khususnya. Kami sadar dalam makalah ini masih banyak kekurangan, maka kritik dan saran yang membangun sangatlah kami harapkan.


[1] Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm. 31
[2] Di kutip dari Moh. Ghallab, al-tasawwuf al-muqarin, (kairo: Maktabah al-Nahdah,t.t), hlm.29 dalam buku Drs. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Hlm.181
[3] Ibid, hlm. 181
[4] Abdul Qadir Al-Jailani, Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf, Jakarta : Gema Insani Perss. 1996. Hlm. 17
[5] Prof. Dr. M. Solihin, M.Ag dan Dr. Rosihon Anwar, M.Ag. Ilmu Tasawuf, Bandung :CV. Pustaka Setia. 2008. Hlm.40
[6] Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm. 33

[7] Perpindahan roh dari satu badan kebadan lain
[8] Drs. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Hlm.187

[9] Tuhan Kebaikan
[10] Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm. 34


Tidak ada komentar:

Posting Komentar