I.
PENDAHULUAN
Perikehidupan
(sirah) Nabi SAW merupakan benih – benih tasawuf, yaitu pribadi Nabi yang
sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Cara
beribadah Nabi juga merupakan cikal bakal tasawuf. Nabi SAW adalah orang yang
paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat di sebutkan bahwa pada suatu malam,
Nabi mengerjakan Shalat malam. Saat itu lututnya bergetar karena panjang dan
banyaknya rakaat serta kekhusyukan beliau dalam shalatnya. Tatkala rukuk dan
sujud terdengar suara tangisnya, namun beliau tetap terus melakukan shalat
sampai suara adzan bilal bin rabah terdengar di waktu subuh. Melihat Nabi
Muhammad demikian tekun melakukan shalat, Aisyah bertanya, “Wahai junjunganku, bukanlah dosamu yang terdahulu dan akan datang
telah di ampuni Allah, kenapa engkau masih terlalu banyak melakukan shalat?” Nabi
menjawab “Aku ingin menjadi hamba yang
banyak bersyukur.” H.R Bukhari dan Muslim.
Akhlak
Nabi Muhammad merupakan acuan akhlak yang tiada bandingnya. Akhlak Nabi bukan
hanya di puji oleh manusia termasuk musuh – musuhnya, tetapi juga Allah SWT.
Ajaran
rasul tentang bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sehari – hari banyak
diikuti oleh para sahabatnya, dilanjutkan oleh para tabi’in, tabiit tabi’in,
dan seluruh muslim hingga saat ini.
ôs)©9
tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
21. Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Demikianlah
sekilas asal usul tasawuf dalam islam, jelas asal usul tasawuf Islam bersumber
dari Al – Qur’an dan Hadis. Akan tetapi, perlu kita perhatikan pendapat dari
kalangan Orientalis Barat. Mereka mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur
islam, unsur masehi (agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu Budha, dan Unsur
Persia.[1]
II.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
sajakah sumber – sumber tasawuf?
III.
PEMBAHASAN
A. SUMBER
– SUMBER TASAWUF
Di kalangan para orientalis Barat
Biasanya di jumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf
itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur Masehi (Agama nasrani), Unsur Yunani,
Unsur Hindu/Budha dan Unsur Persia. Kelima unsur ini secara ringkas dapat di
jelaskan sebagai berikut:
1.
Unsur Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur
kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan kehidupan yang bersifat
batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah itulah kemudian lahirlah
tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari
sumber ajaran islam, Al – Qur’an dan al – sunnah serta praktek kehidupan nabi
dan para sahabatnya.
Suatu hadist mengatakan, “Senantiasalah seorang hamba itu mendekatkan
diri kepadaKu dengan amalan – amalan sunat sehingga Aku mencintainya. Maka
apabila mencintainya maka jadilah Aku Pendengarannya yang dia pakai untuk
melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia
pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan
Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninju dan berjalan.”
Hadist tersebut di atas memberi petunjuk
bahwa antara manusia dan Tuhan bisa bersatu. Diri manusia bisa lebur dalam diri
Tuhan, yang selanjutnya di kenal dengan istilah al-Fana’, yaitu Fana-nya
makhluk sebagai yang mencintai kepada diri Tuhan sebagai yang dicintai.
Di kalangan para sahabat pun ada pula
orang yang mengikuti praktek bertasawuf sebagaimana yang diamalkan nabi, Abu
Bakar misalnya berkata : “Aku mendapat kemuliaan dan ketakwaan, kefanaan dalam
keagungan dan rendah hati. Demikian pula khalifah Umar Ibn Khatab pada suatu
ketika pernah berkhutbah di hadapan jamaah kaum muslimin dalam keadaan pakaian
yang sangat sederhana. Selanjutnya khalifat Usman Ibn Affan banyak menghabiskan
waktunya untuk beribadah dan membaca al – qur’an. Baginya Al Qur’an ibarat
surat dari kekasih yang selalu dibawa dan dibaca kemanapun ia pergi.
Selain sumber – sumber di atas, situasi
masyarakat pada masa itu pun ikut serta mempersubur lahirnya tasawuf. Setelah
islam tersebar keseluruh penjuru dan makin kokoh pemerintahan Islam serta
semakin makmurnya masyarakat, maka mulai timbul pola hidup yang bermewah –
mewahan dan berfoya – foya. Dalam keadaan demikian timbullah sekelompok
masyarakat yang melakukan protes dengan cara hidup zuhud, seperti yang
diperlihatkan oleh Hasan al-Basri. Tokoh ini dengan gigih dan gayanya yang
retorik telah mampu mengembalikan kaum muslimin kepada garis agama dan
muncullah kehidupan sufistik. Sikap protes ini kemudian mendapat simpatik dari
masyarakat dan timbullah pola hidup tasawuf.
Bersamaan dengan itu pada masa ini timbul
pula aliran – aliran keagamaan, seperti aliran Khawarij, Muktazilah dan lain –
lain. Aliran keagamaan ini dikenal banyak mempergunakan rasio dalam mendukung
ide - idenya. Untuk membendung aliran
ini, maka timbullah kelompok yang tidak mau terlibat dalam penggunaan akal
untuk membahas soal – soal tasawuf. Kelompok yang terakhir ini berusaha
mengasingkan diri dan memusatkan diri untuk
beribadah kepada Allah.[2]
Dari informasi tersebut terlihat bawa
munculnya tasawuf di kalangan ummat islam bersumber pada dorongan ajaran Islam
dan faktor situasi sosial dan sejarah kehidupan masyarakat pada umumnya. [3]
2.
Unsur Masehi (Agama Nasrani)
Mereka yang beranggapan bahwa tasawuf
berasal dari unsur Nasrani mendasarkan pada argumentasinya pada dua hal: Pertama, adanya suatu interaksi antara
orang – orang Arab dan kaum Nasrani pada masa Jahiliyah maupun zaman Islam. Kedua, adanya segi – segi kesamaan
antara kehidupan para asketis atau sufi dalam hal ini ajaran serta tata cara
mereka melatih jiwa dan mengasingkan diri
dengan kehidupan Al – Masih dan ajaran – ajarannya, serta dengan para
rahib ketika sembahyang dan berpakaian. [4]
Pokok – pokok ajaran tasawuf yang diklaim
berasal dari agama Nashrani antara lain adalah :
·
Sikap Fakir. Al – Masih adalah fakir dan
injil disampaikan kepada orang fakir sebagimana di katakana Isa dalam Injil
Matius, ” Beruntunglah kamu orang – orang miskin karena bagi kamulah kerajaan
Allah. Beruntunglah kamu orang yang lapar karena kamu akan kenyang.”
·
Tawakal kepada Allah dalam soal
penghidupan. Para pendeta telah mengamalkan dalam sejarah hidupnya, sebagaimana
di katakana dalam injil, “Perhatikan burung-burung di langit, dia tidak
menanam, dia tidak mengentam dan tidak duka cita pada waktu susah. Bapak kamu
dari langit member kekuatan kepadanya. Bukankah kamu lebih mulia daripada
burung.?”
·
Peranan Syekh yang menyerupai pendeta.
Bedanya pendeta dapat menghapuskan dosa.
·
Selibasi, yaitu menahan diri tidak kawin
karena kawin dianggap bisa mengalihkan diri dari Tuhan.
·
Penyaksian, di mana sufi menyaksikan
hakikat Allah dan mengadakan hubungan dengan Allah, demikian pula Injil telah
menerangkan terjadinya hubungan langsung dengan Tuhan.[5]
3.
Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani, yaitu filsafatnya,
telah masuk pada dunia Islam yang perkembangannya dimulai pada akhir daulah
Umayyah dan puncaknya pada daulah Abbasiyah. Metode berpikir filsafat Yunani juga telah ikut mempengaruhi
pola pikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Pada
persoalan ini, boleh jadi, tasawuf yang terkena pengaruh Yunani adalah Tasawuf
yang kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf yang bercorak filsafat.
Selain itu, ada yang mengatakan bahwa
masuknya filsafat ke dunia Islam melalui mazhab paripatetik dan Neo-Platonisme.
Filsafat emanisasi-nya Plotinus yang mengatakan bahwa wujud memancar dari Dzat
Tuhan yang Maha Esa menjadi salah satu dasar argumentasi para orientalis dalam
menyikapi asal mula tasawuf Islam. Dalam emanasi-nya, Plotinus menjelaskan
bahwa roh berasal daru Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Akan tetapi, ketika
masuk kea lam materi, roh menjadi kotor, dan untuk kembali ke tempat asalnya,
roh harus di bersihkan terlebih dahulu. Penyucian roh dilakukan dengan cara
meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sebisa mungkin, atau bersama dengan
Tuhan. Dikatakan pula bahwa filsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya
kaum zahid dan sufi dalam Islam.[6]
4.
Unsur Hindu / Budha
Antara tasawuf dan sistem kepercayaan agama
Hindu dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir, darwisy. Al-Birawi
mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan
Hindu. Kemudian pula paham reinkarnasi[7],
cara kelepasan dari dunia versi Hindu/Budha dengan persatuan diri dengan jalan
mengingat Allah.
Salah satu maqomat Sufiah al-fana nampaknya ada persamaan dengan
ajaran tentang Nirwana dalam agama
Hindu. Menurut Qomar Kailani pendapat – pendapat ini terlalu ekstrim sekali
karena kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dai Hindu/Budha berarti
pada zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu/Budha itu ke Mekkah,
padahal sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu[8].
5.
Unsur Persia
Sebenarnya, Arab dan Persia memiliki
hubungan sejak lama, yaitu pada bidang politik, pemikiran, kemasyarakat, dan
sastra. Akan tetapi, belum ditemukan argumentasi kuat yang menyatakan bahwa
kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Sekalipun demikian,
kehidupan kerohanian Arab masuk Persia hingga orang – orang Persia itu terkenal
sebagai ahli – ahli tasawuf. Barangkali ada persamaan antara istilah zuhud di
Arab dan zuhud menurut agama Manu dan
Masdaq; antara istilah Hakikat
Muhammad dan paham Hormuz[9]
dalam agama Zarathustra. [10]
IV.
KESIMPULAN
Dari semua uraian ini dapatlah di
simpulkan bahwa sebenarnya tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri
mengingat yang di praktekan Nabi dan para sahabat. Hal ini dapat di lihat dari
azas – azasnya. Semuanya berlandaskan kepada kepada Al – Qur’an dan Sunnah.
Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa setelah tasawuf itu berkembang menjadi
pemikiran dia mendapat pengaruh dari filsafat Yunani, Hindu, Persia dan lain
sebagainya, dan hal ini tidak hanya terjadi dalam bidang tasawuf saja melainkan
juga dalam bidang lainnya. Seandainya terdapat persamaan dengan beberapa agama
samawi (Nasrani dan Yahudi), karena semua agama samawi berasal dari Tuhan yang
sama, Allah SWT., yang dalam islam diyakini mengajarkan ketauhidan.
V.
PENUTUP
Demikianlah
makalah ini saya susun, semoga dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan kita
secara umumnya, dan bagi penulis secara khususnya. Kami sadar dalam makalah ini
masih banyak kekurangan, maka kritik dan saran yang membangun sangatlah kami
harapkan.
[1]
Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm.
31
[2] Di
kutip dari Moh. Ghallab, al-tasawwuf al-muqarin, (kairo: Maktabah
al-Nahdah,t.t), hlm.29 dalam buku Drs. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf,
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Hlm.181
[3]
Ibid, hlm. 181
[4]
Abdul Qadir Al-Jailani, Koreksi terhadap Ajaran Tasawuf, Jakarta : Gema Insani
Perss. 1996. Hlm. 17
[5] Prof.
Dr. M. Solihin, M.Ag dan Dr. Rosihon Anwar, M.Ag. Ilmu Tasawuf, Bandung :CV.
Pustaka Setia. 2008. Hlm.40
[6]
Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm.
33
[7]
Perpindahan roh dari satu badan kebadan lain
[8]
Drs. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Hlm.187
[9]
Tuhan Kebaikan
[10]
Drs. Tamami HAG. M.Ag, Psikologi Tasawuf, Bandung. CV Pustaka Setia, 2011, hlm.
34
Tidak ada komentar:
Posting Komentar