Label

Senin, 25 Juni 2012

Kipas Angin = Kipas Pendingin Laptop


Mungkin kalian akan bertanya – tanya apa maksud dari judul saya ini. Bukan bermaksud untuk membuat anda penasaran, tapi ini kejadian real yang ada di kehidupan saya. Al kisah di ceritakan, saat saya pertama kali bermukim dikota Semarang. Malam pertama di Semarang, saya tidak dapat tidur pemirsah! Kamu tahu kenapa? Yak, karena saya kepanasan di kamar kost. Entah apa yang membuat  suasananya terasa panas, apakah ini termasuk dari pengaruh global warming? Ataukah karena kamar ini pengap? Ataukah karena saya kebanyakan dosa? Yang jelas saya berasa panas. Asumsi saya pertama kali adalah, mungkin karena saya ini habitat aslinya dari pegunungan, makanya saat saya berimigrasi ke dataran rendah tubuh saya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Al hasil, beginilah akhirnya. Sungguh dilematis sekali pemirsah.

Sejak saat itu saya pun berkeinginan untuk membeli sebuah kipas angin. Berhubung kantong cekak, maka saya berinisiatif untuk membeli kipas angin bekas. Entah itu bekas tukang sate, entah itu bekas pelajar, ataupun bekas ibu – ibu hamil saya tidak perduli. Ide ini muncul karena saya terpengaruh oleh teman dekat saya yang membeli kipas angin bekas.
Pada hari berikutnya saya pun menyambangi daerah yang menjual barang – barang bekas. Singkat kata singkat cerita, saya pun mendapatkan barang yang saya maksud. Sebuah kipas angin dengan ukuran sedang dan berwarna putih seharga 40.000 rupiah. Dengan senang hati, sampai di kamar kost, langsung saya nikmati semilir angin nan sepoi – sepoi bak sedang ada di pantai. Tapi ada yang sedikit menganggu, karena ketika mau putar arah, kipas angin itu selalu mengeluarkan bunyi “Kletakkkk . . jrettt . . jrettt. .” begitu seturusnya. Awalnya saya risih, tapi apa nak di kata, namanya juga barang bekas.
Hari demi hari, saya nikmati dengan kesejukan. Tak ada lagi kata panas kalau di kost. Setelah sekitar 2 bulan saya menikmati itu, masalah pun dimulai. Tiba – tiba tepat pukul 20.34 WIB, kipas angin saya berhenti mendadak. Saya sempat bingung, apakah kipas saya ini koma? Ataukah gagal jantung? Atau pingsan? Sayang, kipas angin saya tak mau menjelaskan lebih lanjut. Yah, mungkin kipasnya sudah mati karena penyakit uzur. Berulang kali saya coba menghidupkan lagi, namun tetap tidak bisa. Akhirnya saya pun pasrah. Malam itu saya begitu kepanasan seperti SPA di kamar. Keringat bercucuran, saya pun tak nyenyak tidur. Kipas – kipas dengan buku, malah tangan saya pegel. Coba nikmati, tapi saya tidak bisa menikmati. Tak sengaja pandangan saya tertuju pada laptop, kemudian pikiran saya mengarah pada kipas angin pendingin laptop. HAHAHAHAHAHAHAHA. . . *tuingggg. . . bolam lampu muncul di atas kepala* saya punya ide yang sangat spektakuler dan mungkin belum ada penemunya. Saya bergegas nyalakan laptop dan memasang kipas laptop. Eitsss… tapi kipas itu bukan untuk laptop, melainkan buat saya. Saya berdirikan kipas laptop tersebut menghadap ke saya. Dan wal hasil, nampak angin menyentuh kulit saya. Ahhhh… segerrrrrr . .
Saya pun tersenyum puas. Tak ada kipas angin, kipas laptop pun jadi. Setidaknya ini bisa mengurangi hawa panas yang memeluk tubuh ini.
Dari kisah ini, saya berharap semoga bisa menjadi inspirasi bagi anda – anda  yang kepanasan dan tidak punya kipas angin tetapi mempunyai kipas laptop. Marilah kita ambil hikmah dari kisah ini, bahwa sanya apapun yang ada di sekeliling kita, pasti punya manfaat, tinggal bagaimana kita mengasah kreatifitas kita. Sekian dari saya, apabila ada salah – salah kata, saya mohon maaf yang sebesar – besarnya.

2 komentar: