Mungkin
kalian akan bertanya – tanya apa maksud dari judul saya ini. Bukan bermaksud
untuk membuat anda penasaran, tapi ini kejadian real yang ada di kehidupan
saya. Al kisah di ceritakan, saat saya pertama kali bermukim dikota Semarang.
Malam pertama di Semarang, saya tidak dapat tidur pemirsah! Kamu tahu kenapa?
Yak, karena saya kepanasan di kamar kost. Entah apa yang membuat suasananya terasa panas, apakah ini termasuk
dari pengaruh global warming? Ataukah karena kamar ini pengap? Ataukah karena
saya kebanyakan dosa? Yang jelas saya berasa panas. Asumsi saya pertama kali
adalah, mungkin karena saya ini habitat aslinya dari pegunungan, makanya saat
saya berimigrasi ke dataran rendah tubuh saya belum bisa beradaptasi dengan
lingkungan sekitar. Al hasil, beginilah akhirnya. Sungguh dilematis sekali
pemirsah.
Sejak
saat itu saya pun berkeinginan untuk membeli sebuah kipas angin. Berhubung
kantong cekak, maka saya berinisiatif untuk membeli kipas angin bekas. Entah
itu bekas tukang sate, entah itu bekas pelajar, ataupun bekas ibu – ibu hamil
saya tidak perduli. Ide ini muncul karena saya terpengaruh oleh teman dekat
saya yang membeli kipas angin bekas.
Pada hari
berikutnya saya pun menyambangi daerah yang menjual barang – barang bekas.
Singkat kata singkat cerita, saya pun mendapatkan barang yang saya maksud.
Sebuah kipas angin dengan ukuran sedang dan berwarna putih seharga 40.000
rupiah. Dengan senang hati, sampai di kamar kost, langsung saya nikmati semilir
angin nan sepoi – sepoi bak sedang ada di pantai. Tapi ada yang sedikit
menganggu, karena ketika mau putar arah, kipas angin itu selalu mengeluarkan
bunyi “Kletakkkk . . jrettt . . jrettt. .” begitu seturusnya. Awalnya saya
risih, tapi apa nak di kata, namanya juga barang bekas.
Hari demi
hari, saya nikmati dengan kesejukan. Tak ada lagi kata panas kalau di kost.
Setelah sekitar 2 bulan saya menikmati itu, masalah pun dimulai. Tiba – tiba
tepat pukul 20.34 WIB, kipas angin saya berhenti mendadak. Saya sempat bingung,
apakah kipas saya ini koma? Ataukah gagal jantung? Atau pingsan? Sayang, kipas
angin saya tak mau menjelaskan lebih lanjut. Yah, mungkin kipasnya sudah mati
karena penyakit uzur. Berulang kali saya coba menghidupkan lagi, namun tetap
tidak bisa. Akhirnya saya pun pasrah. Malam itu saya begitu kepanasan seperti
SPA di kamar. Keringat bercucuran, saya pun tak nyenyak tidur. Kipas – kipas
dengan buku, malah tangan saya pegel. Coba nikmati, tapi saya tidak bisa
menikmati. Tak sengaja pandangan saya tertuju pada laptop, kemudian pikiran
saya mengarah pada kipas angin pendingin laptop. HAHAHAHAHAHAHAHA. . .
*tuingggg. . . bolam lampu muncul di atas kepala* saya punya ide yang sangat
spektakuler dan mungkin belum ada penemunya. Saya bergegas nyalakan laptop dan
memasang kipas laptop. Eitsss… tapi kipas itu bukan untuk laptop, melainkan
buat saya. Saya berdirikan kipas laptop tersebut menghadap ke saya. Dan wal
hasil, nampak angin menyentuh kulit saya. Ahhhh… segerrrrrr . .
Saya pun
tersenyum puas. Tak ada kipas angin, kipas laptop pun jadi. Setidaknya ini bisa
mengurangi hawa panas yang memeluk tubuh ini.
Dari
kisah ini, saya berharap semoga bisa menjadi inspirasi bagi anda – anda yang kepanasan dan tidak punya kipas angin
tetapi mempunyai kipas laptop. Marilah kita ambil hikmah dari kisah ini, bahwa
sanya apapun yang ada di sekeliling kita, pasti punya manfaat, tinggal
bagaimana kita mengasah kreatifitas kita. Sekian dari saya, apabila ada salah –
salah kata, saya mohon maaf yang sebesar – besarnya.
oe......
BalasHapusha?
Hapus