http://ivanko.wordpress.com
Membahas
biografi seorang tokoh seringkali tidak terlalu penting dan signifikan
untuk mengetahui pemikiran tokoh tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa
tidak setiap masa lalu kemudian sangat berpengaruh dalam pemikiran
periode selanjutnya. Namun tidak dalam kasus Fazlur Rahman. Justru
dengan mengtahui biografi dan latar belakang hidupnya, kita akan
mendapat cukup bahan untuk mengetahui arus pemikiran Rahman selanjutnya.
Fazlur
Rahman lahir dalam suatu lingkungan yang bermazhab Hanafi. Seperti
diketahui bersama, mazhab Hanafi merupakan salah satu mazhab sunni
paling rasional dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain. Tak pelak
kemudian dalam karier akademik berikutnya, Fazlur Rahman tidak merasa
puas jika hanya mengenyam pendidikan di dalam negerinya sendiri.
Setelah menamatkan studinya di universitas Punjab dan meraih gelar MA,
Fazlur Rahman melanjutkan kariernya ke Oxford University. Karena hal
itulah keilmuan India-Pakistan yang tradisional dan barat yang
rasioanal-liberal menyatu dalam diri Rahman.
Karya-karya
Fazlur Rahman cukup banyak. Agak sukar menentukan dalam ranah apa
sebenarnya spesialisasi Rahman. Ia menulis buku tentang Islam,
al-Qur’an, filsafat, dan berbagai tema penting lainnya. Akan tetapi di
sini penulis akan membatasi pemikiran Fazlur Rahman tentang al-Qur’an
dan cara penafsiran yang ditawarkannya.
Pandangan Rahman tentang al-Qur’an memanag cukup kontroversial. Rahman manyatakan dalam karyanya, Islam, “Al-Qur’an
itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian
biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. Pandangan yang tidak
biasa dalam masyarakatnya ini kontan mendapat serangan sengit dari kaum
ortodoks dan fundmentalis di Pakistan. Namun yang perlu dipahami di sini
adalah apa sebenarnya yang dimaksud Rahman dengan “dalam pengertian
biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. Pernyataan Rahman ini
bisa kita pahami ketika kita melihat bahwa al-Qur’an adalah Kalam Tuhan
yang abadi, tidak bermula dan berakhir. Maka dari sini kita melihat
bahwa keabadian dan ketakbermulaan ini sifatnya adalah transendental,
bukan mewujud dalam dunia fisik. Karena dalam tradisi ilmu kalam,
sesuatu yang berwujud fisik tidaklah abadi. Rahman memandang bahwa dalam
konteks al-Qur’an yang berada di sisi Allahlah yang benar-benar abadi,
tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sementara ketika al-Qur’an tersebut
disampaikan kepada Umat manusia oleh Nabi Muhammad, maka al-Qur’an itu
juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad. Karena bahasa Arab adalah
produk budaya, secara otomatis “bahasa” al-Qur’an tersebut adalah bahasa
yang dimengerti oleh Muhammad ketika al-Qur’an tersebut hendak
disampaikan kepada kaumnya.
Bagi
Rahman, wahyu adalah semacam ide yang masuk secara tiba-tiba ke dalam
benak Muhammad. Ia hanya merupakan sebuah gagasan yang jelas, dan
kemudian Nabi Muhammad menjadi “kepanjangan tangan” dari ide tersebut.
Pemikiran Rahman yang demikian itu, sebagaimana dikemukakan di muka,
tentu saja langsung mendapat kritikan tajam dari para penganut Islam
yang telah mapan. Karena dalam pandangan tradisional, al-Qur’an adalah
dari Allah, lafadz sekaligus maknanya.
Kemudian
mengenai metode yang ditempuh Rahman dalam menafsirkan al-Qur’an adalah
bertumpu pada pandangannya tentang pembaruan. Hal ini muncul
dikarenakan oleh kecenderungannya dalam melihat realitas peradaban
barat. Metode yang ditawarkan Rahman adalah teori double movement.
Yaitu metode gerakan ganda (bolak-balik). Pertama, cara yang mesti
ditempuh untuk menafsirkan adalah dengan kembali ke masa lalu. Kita
berusaha melihat bagaimana pemahaman awal tentang al-Qur’an, konteks di
mana ia turun, dan sebagianya. Setelah itu kita melihat ke masa
kekinian, dengan berbekal pemahaman akan ruh universal terhadap
penafsiran dari yang pertama, untuk kemudian mengkontekstualisasikannnya
dengan kekinian. Wallahu a’lamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar