Label

Minggu, 06 Mei 2012

Anak - Anak Rambu

Panas terik ini terasa sangat sakit menyentuh kulit ku. Di tambah kemacetan ini. Akh, sungguh merepotkan. Ku perhatikan sekelilingku. Kenapa dari sekian banyak orang ini tak ada yang aku kenal? Sudahlah. Bukan urusankanku.

Otakku pun mulai berasumsi tentang orang – orang disekitarku. Sepertinya dari kemacetan ini, setiap orang disini pasti punya cerita masing – masing. Mungkin, supir truk itu sedang buru – buru hendak mengantarkan pesanannya kepada seseorang yang jauh disana. Nampak dari raut mukanya yang semprawut itu, dan tak henti – hentinya ia melihat ke arah jam tangannya. Mungkin lelaki itu sedang buru – buru pulang ke rumah karena kebelet ke WC. Hahahaha. . Nampak dari wajahnya, seperti menahan sesuatu. Atau mungkin sepasang kekasih itu malah menikmati suasana kemacetan ini. Terlihat dari pelukan mesra cewek yang membonceng di belakangnya. Mereka mungkin senang, dengan kemacetan ini, tentunya mereka akan menjadi semakin lama bersama dan semakin dekat. Sudahlah. Dasar anak muda.

Tetapi dari sekian banyak orang ini, aku tertarik dengan anak – anak yang nampak kumal itu. Aku sebut mereka anak – anak rambu. Terpikir beberapa pertanyaan di benakku. Apa mereka tahu hakekat apa mereka ada disini? Apakah itu membuat mereka senang? Apakah sebenarnya yang mereka harapkan? Dimana orang tua mereka? Apakah mereka tidak sekolah? Ingin sekali aku tanyakan kepada mereka. Tapi nampaknya mereka sangat asyik dengan kegiatan mereka di tengah kemacetan ini. Mereka berpencar, singgah dari kendaraan itu ke kendaraan ini, dari sana dan kesini. Ada yang bernyanyi lagu – lagu seadanya yang mereka bisa, ada pula yang hanya berkata, “Pak, kasihan, pak.” Dengan menjulurkan tangannya. Atau ada pula yang tanpa berkata, hanya pasang wajah memelas dan sodorkan tangan. Lima ratus rupiah ditangan.

Hah, memang sungguh kasihan nampaknya. Apalagi ada anak yang mungkin berumur sekitar 7 tahun, menggendong adiknya yang mungkin baru berumur 2 tahun. Adiknya yang tak tahu apa – apa nampak ketakutan di tengah hiruk pikuk musikalisasi mesin – mesin ini. Ia nampak bingung. “Akh, kakak! Tempat macam apa ini.” Mungkin ia berkata dalam hati demikian.

Malangnya mereka ini. Anak – anak rambu. Miris dalam hatiku melihatnya. Tapi kenapa mereka diam saja, seakan menikmati? Apa sebenarnya dalam hati kecil mereka, mereka berontak. Berkata pada Tuhan, “Tuhan, apa ini takdirku?”

Anak itu menghampiriku. Dengan tanpa kata ia menyodorkan tangannya. Dari matanya aku tahu dia butuh apa. Mungkin ini yang dia butuhkan. Sebuah barang yang mereka kenal dengan nama uang.

By : Khanessa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar