Anak - Anak Rambu
Panas terik ini
terasa sangat sakit menyentuh kulit ku. Di tambah kemacetan ini. Akh,
sungguh merepotkan. Ku perhatikan sekelilingku. Kenapa dari sekian
banyak orang ini tak ada yang aku kenal? Sudahlah. Bukan urusankanku.
Otakku pun mulai
berasumsi tentang orang – orang disekitarku. Sepertinya dari
kemacetan ini, setiap orang disini pasti punya cerita masing –
masing. Mungkin, supir truk itu sedang buru – buru hendak
mengantarkan pesanannya kepada seseorang yang jauh disana. Nampak
dari raut mukanya yang semprawut itu, dan tak henti – hentinya ia
melihat ke arah jam tangannya. Mungkin lelaki itu sedang buru –
buru pulang ke rumah karena kebelet ke WC. Hahahaha. . Nampak dari
wajahnya, seperti menahan sesuatu. Atau mungkin sepasang kekasih itu
malah menikmati suasana kemacetan ini. Terlihat dari pelukan mesra
cewek yang membonceng di belakangnya. Mereka mungkin senang, dengan
kemacetan ini, tentunya mereka akan menjadi semakin lama bersama dan
semakin dekat. Sudahlah. Dasar anak muda.

Tetapi dari sekian
banyak orang ini, aku tertarik dengan anak – anak yang nampak kumal
itu. Aku sebut mereka anak – anak rambu. Terpikir beberapa
pertanyaan di benakku. Apa mereka tahu hakekat apa mereka ada disini?
Apakah itu membuat mereka senang? Apakah sebenarnya yang mereka
harapkan? Dimana orang tua mereka? Apakah mereka tidak sekolah? Ingin
sekali aku tanyakan kepada mereka. Tapi nampaknya mereka sangat asyik
dengan kegiatan mereka di tengah kemacetan ini. Mereka berpencar,
singgah dari kendaraan itu ke kendaraan ini, dari sana dan kesini.
Ada yang bernyanyi lagu – lagu seadanya yang mereka bisa, ada pula
yang hanya berkata, “Pak, kasihan, pak.” Dengan menjulurkan
tangannya. Atau ada pula yang tanpa berkata, hanya pasang wajah
memelas dan sodorkan tangan. Lima ratus rupiah ditangan.
Hah, memang sungguh
kasihan nampaknya. Apalagi ada anak yang mungkin berumur sekitar 7
tahun, menggendong adiknya yang mungkin baru berumur 2 tahun. Adiknya
yang tak tahu apa – apa nampak ketakutan di tengah hiruk pikuk
musikalisasi mesin – mesin ini. Ia nampak bingung. “Akh, kakak!
Tempat macam apa ini.” Mungkin ia berkata dalam hati demikian.
Malangnya mereka
ini. Anak – anak rambu. Miris dalam hatiku melihatnya. Tapi kenapa
mereka diam saja, seakan menikmati? Apa sebenarnya dalam hati kecil
mereka, mereka berontak. Berkata pada Tuhan, “Tuhan, apa ini
takdirku?”
Anak itu
menghampiriku. Dengan tanpa kata ia menyodorkan tangannya. Dari
matanya aku tahu dia butuh apa. Mungkin ini yang dia butuhkan. Sebuah
barang yang mereka kenal dengan nama uang.
By : Khanessa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar