by : Khanessa
Hari ini aku berencana jalan – jalan mengitari kawasan Semarang. Kebetulan sekali hari ini adalah malam minggu, jadi aku dan temanku bisa puas berpetualang malam – malam tanpa memikirkan beban tugas. Perjalanan kami mulai dari kawasan Tugu Muda. Entah kenapa dinamakan Tugu Muda. Orang – orang sih mengatakan karena monumen ini perlambang perlawanan para pemuda Semarang dengan tentara penjajah. Hemmmm . . cukup masuk akal. Sebagai anak muda yang belum lahir di zamannya, maka aku hanya bisa mempercayainya saja. Toh.. aku juga tak begitu memahami tentang sejarah.
Hari ini aku berencana jalan – jalan mengitari kawasan Semarang. Kebetulan sekali hari ini adalah malam minggu, jadi aku dan temanku bisa puas berpetualang malam – malam tanpa memikirkan beban tugas. Perjalanan kami mulai dari kawasan Tugu Muda. Entah kenapa dinamakan Tugu Muda. Orang – orang sih mengatakan karena monumen ini perlambang perlawanan para pemuda Semarang dengan tentara penjajah. Hemmmm . . cukup masuk akal. Sebagai anak muda yang belum lahir di zamannya, maka aku hanya bisa mempercayainya saja. Toh.. aku juga tak begitu memahami tentang sejarah.
Setelah puas dengan Tugu Muda, maka aku dan temanku lekas
beranjak dan berencana melaksanakan petualangan kami. Kami segera menuju ke
kawasan kota Lama Semarang. Aku penasaran, ada apa di kota yang disebut dengan
julukan Kota Lama. Mengapa kawasan ini dikatakan Kota Lama? Mungkin saja karena
bangunan – bangunan yang ada disitu sudah lama berdiri. Tapi, kenapa tidak
dijuluki kota lampau saja ya???? Dari pada mengurusi hal masalah julukan, lebih
baik menikmati kawasan ini saja. Mencoba menelaah kepingan sejarah yang
tersirat melalui retakan – retakan di tembok gedung dan juga megahnya gedung –
gedung itu. Seakan gedung itu mengatakan kepadaku, “Hai anak muda? Tahukah kau
berapa umurku?”
Kawasan kota lama ini memang sungguh berwarna. Ya,
berwarna. Because what? Karena disini aku bisa menemukan gerombolan anak muda
yang sedang berkumpul di depan gereja dan sedang bermain Skateboard juga
berfree style sepeda. Nampak asik sekali. Ada juga gerombolan anak muda yang
menikmati kemewahan kota Lama dengan membingkainya disuatu potret diri bernama
foto. Mengabadikan moment malam itu dengan berfoto bersama gedung – gedung nan
anggun itu.
Ada juga segerombolan penyanyi – penyanyi gerobak dorong,
atau entahlah namanya. Aku tak berani berhenti di depan penyanyi – penyanyi
itu, karena aku takut. Aku tak tahu apa alasan aku takut, yang jelas aku tak
berani. Aku hanya melintas saja. Dan nampak penyanyi – penyanyi malam nan
cantik dan berpakaian seksi. Nampak seperti tokoh – tokoh yang ada di televisi
, yang orang sebut mereka artis. Tapi aku tak tahu, julukan apa yang orang –
orang tujukan pada para penyanyi – penyanyi itu. Yang jelas aku lihat mereka
bernyanyi. Tidak ada hal lainnya, kecuali menyanyi sambil berjoged.
Waktu terus berlalu, nampaknya kota lama ini akan
diberikan sesuatu dari langit. Air turun tetes demi tetes ke daratan kota Lama
ini. Perlahan – lahan tetesan kecil itu pun berubah menjadi tetesan kecil yang
deras. Hujan.
Aku berteduh di salah satu gedung tua. Nampaknya yang ini
bukan gedung yang terawatt. Karena gedung ini tua, tapi tak nampak megah karena
tak terurus. Hujan yang semakin deras ini mengakibatkan genangan air disana,
disini dan disitu. Dan lama – lama genangan air itu ada dimana – mana. Dan
terbentuklah suatu banjir di kawasan ini. Kemegahan kota lama tiba – tiba
hilang karena banjir. Hemmm.. nampak seperti kota lama yang lama ditinggal oleh
penduduknya. Nampak seperti kota yang mati. Dengan genangan air ini. Aku tak
tahu apa yang menyebabkan kota ini tergenang air. Mungkin karena hujan yang
cukup deras? Atau mungkin Karena drainase yang kurang lancer disini, karena
nampak para sampah – sampah itupun ikut hanyut. Pikiran ku lantas membentuk
seuatu pertanyaan, apakah pada zaman dahulu kota ini juga tergenang banjir?
Ataukah hanya akhir – akhir ini saja? Belum terjawab.
Walaupun kota ini tergenang air, tapi aku masih bangga
dengan kawasan ini. Kawasan ini nampak masih kokoh berdiri diantara kawasan –
kawasan elit lainnya. Sebenarnya kawasan ini juga masih elit, andai saja lebih
di permak sedikit agar masih terjaga kemewahannya. Agar kami para penikmat
sejarah ini, bisa lebih mengagumi keperkasaan masa lampau.
ku kira artikel
BalasHapuseee....ternyata curhat
hehehehehehe
Hapus