Siang
ini begitu panas, terik matahari seakan menusuk – nusuk kulit. Tapi
kondisi ini tidak menyurutkan semangat para mahasiswa yang melakukan
demo menentang kenaikkan harga BBM. Mereka berteriak – teriak
menyerukan aspirasi mereka. Panas dan polusi tak memadamkan semangat
demi membela kepentingan rakyat Indonesia khususnya. Mereka memblokir
jalan raya sehingga mengakibatkan kemacetan. Belum lagi, pada akhir
acara itu sering kali terjadi perkelahian baik antar para demonstran
ataupun para demonstran dengan para aparat keamanan. Hal semacam ini
sungguh sangat tidak di harapkan karena dapat mengganggu kepentingan
publik.
Mahasiswa sering di gadang – gadang
sebagai agent social of change. Dimana – mana, di Universitas atau
di Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta, pasti selalu memakai
slogan agent social of change. Mereka selalu ingin menjadi generasi
muda yang membentuk bangsa, dan menumbangkan kebijakan – kebijakan
pemerintah yang tidak sesuai untuk rakyatnya, karena mereka selalu
beranggapan bahwa mereka adalah penyalur aspirasi rakyat. Banyak di
antara mereka yang melakukan demonstrasi untuk menyerukan suara atau
buah pikiran mereka kepada pemerintah yang duduk di singgasana
kepemimpinannya. Tapi hanya sedikit yang berhasil menyampaikan
aspirasi mereka kepada pemerintah. Malah,
hasilnya menuai
kecaman karena berakhir bentrok, tindak kekerasan dan terkadang
mengganggu masyarakat sekitar. Hal seperti itu sebaiknya jangan di
lakukan jika hanya akan menimbulkan kerusuhan dan bisa saja hal
semacam ini membuat masyarakat tidak menaruh kepercayaan lagi ada
mahasiswa.
Saat ini, kebebasan berpendapat
sangat di agung – agungkan. Semua kalangan menuntut kebebasan
berpendapat dapat di hargai dan diberi ruang penting dalam proses
perubahan. Sehingga dari situlah muncul berbagai bentuk penyaluran
aspirasi. Mahasiswa sebagai agen pembawa perubahan sosial, harus bisa
memanfaatkan kebebasan berpendapat tersebut. Masyarakat sudah jenuh
dengan kekerasan, mereka menuntut para generasi muda bisa membawa
angin segar bagi kehidupan mereka, tapi bukan dari hal yang berbau
anarki, tapi lebih dengan cara halus nan menyentuh hati para petinggi
pemerintahan.
Ada banyak cara bagi mahasiswa untuk
menyerukan aspirasinya. Salah satunya adalah melalui tulisan. Saat
ini, kita akan sangat mudah menemukan berbagai media cetak. Hampir
setiap lapisan masyarakat bisa dengan mudah menemukan informasi dari
media cetak maupun media penyiaran. Media cetak, atau media – media
lainnya memiliki andil penting dalam suatu penyampaian informasi.
Dimana informasi tersebut dapat langsung menyebar dan menyugesti para
pembacanya. Karena pers, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi
masyarakat. Apa lagi, dapat dikatakan bahwa media pers di Indonesia
saat ini berkembang sangat cepat, dan tekhnologinya juga semakin
canggih, seperti adanya blog, media social, dan lain – lain.
Sebagai mahasiswa yang memiliki intelektualitas tinggi, seharusnya
mahasiswa bisa memanfaatkan segala fasilitas yang ada di era modern
jaman sekarang ini. Guna mendukung misinya sebagai agent social of
change, sarana tulis menulis amat sangat membantu dalam menjalankan
misinya.
Pemaknaan tulisan bukan melulu
mengenai tulisan di Koran – Koran ataupun di majalah – majalah.
Tulisan bisa ada dalam bentuk berbagai macam, mulai dari cerpen,
puisi, sajak – sajak atau masih banyak yang lainnya. Yang bisa di
sesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, serta sasaran pembaca
yang di kehendaki, juga pesan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan.
Agar penyampaian pesan lebih bisa mengena dan mudah di serap oleh
para pembaca.
Namun, ada banyak kendala yang
menghambat mahasiswa dalam menulis. Terkadang mahasiswa kesulitan
untuk merangkai kata – kata yang dapat mengena di pikiran para
pembaca. Maka, mahasiswa sering kesulitan untuk memberikan makna
kata yang cocok dengan maksud dari pemikiran mereka. Tapi, dengan
banyak belajar, hal yang tak mungkinpun bisa saja menjadi mungkin.
Dengan tulisan, mahasiswa akan lebih
bisa leluasa mencurahkan segala aspirasinya. Tanpa menimbulkan tindak
kekerasan yang malah akan menuai kontroversi di kalangan masyarakat.
Tulisan membuat cara penyampaian aspirasi lebih memiliki esensi yang
baik di mata masyarakat dan lebih memiliki cara yang lebih terpandang
dari pada harus berdemo yang bisa memiliki akibat negatif lainnya.
Tapi berdemo juga masih di katakan baik, asalkan sesuai dengan
ketentuan yang ada. Tulisan juga memiliki ketentuan – ketentuan
yang harus di taati agar hasil tulisan tersebut sesuai dengan apa
yang diharapkan. Jadi, tulisan memiliki arti penting bagi mahasiswa
khususnya dalam masalah penyaluran aspirasinya.
by : Khanessa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar